
PADANG, pentingbanget.com – Hari ini siapa yang tidak ingin punya bisnis sendiri alias merintis karier jadi entrepreneur? Sayangnya, membangun usaha dari nol itu tidak semudah pamer story estetis di Instagram. Modal uang ternyata belum cukup agar bisnis survive, apalagi di tengah persaingan pasar yang makin brutal dan fast-paced. Hal krusial inilah yang ditekankan oleh Ketua DPRD Sumatera Barat, Muhidi, saat turun langsung memberikan wejangan “daging” di acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Pengusaha di Padang pada Selasa (15/9/2026).
Modal Ilmu Lebih Mahal dari Uang, Wajib Terus Upgrade Diri!
Menurut Muhidi, masuk ke dunia bisnis yang penuh ketidakpastian butuh mental baja dan kemauan keras untuk terus upgrade isi kepala. Buat anak muda yang sedang merintis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kemampuan beradaptasi adalah kunci utama biar bisnis tidak mudah fomo atau tergilas roda zaman. Caranya sebenarnya sederhana, yakni dengan mulai membiasakan diri membaca tren pasar dan aktif mengikuti berbagai pelatihan bisnis.
“Kalau ingin sukses, kita harus mau belajar dan banyak membaca. Dengan ilmu, kita akan lebih mudah melihat peluang,” tegas politisi PKS tersebut membeberkan rumus dasar kesuksesan kepada para pengusaha lokal yang hadir memadati acara tersebut. Ilmu dan literasi yang mumpuni bakal jadi kacamata khusus buat para pengusaha dalam mengendus peluang cuan di sekitarnya.
Potensi Lokal Sumbar Itu Juara, Saatnya Mainkan Digital Marketing
Tidak dapat dipungkiri, Provinsi Sumatera Barat itu ibarat surga harta karun buat industri kreatif dan kuliner. Muhidi secara khusus menyoroti besarnya potensi lokal yang sudah punya nama besar. Mulai dari kelezatan rendang yang diakui dunia, keindahan detail kain tenun, kerajinan kayu yang estetik, sampai seabrek kuliner khas daerah dengan karakter rasa yang super kuat. Namun, produk sebagus apa pun akan berakhir menumpuk di gudang kalau cara jualannya masih pakai metode old school.
Pelaku UMKM zaman now dituntut untuk tidak hanya fokus memperbaiki kualitas packaging atau inovasi rasa, tapi juga wajib melek teknologi digital. Penguasaan trik jualan online dan digital marketing itu harga mati kalau produk lokal Sumbar mau go national bahkan go international. Di sinilah pentingnya para founder bisnis untuk bisa menyeimbangkan hard skill teknis produksi dengan soft skill dalam memanajemen masalah.
“Skill dan soft skill sama-sama penting. Kemampuan itu bisa terus kita asah melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman,” ujar Muhidi mengingatkan pentingnya seni berkomunikasi, manajemen waktu, hingga problem solving. Ia menambahkan bahwa asam garam pengalaman di lapangan adalah guru bisnis yang paling brutal sekaligus paling efektif.
Networking Tanpa Attitude Cuma Bikin Reputasi Hancur!
Sering sekali dengar alasan klasik para pemula, “Pengin buka bisnis, tapi nggak ada modal”? Nah, Ketua DPRD Sumbar ini dengan cerdas mematahkan stigma pesimis tersebut. Menurutnya, kalau suntikan dana lagi seret, yang harus digenjot pol-polan adalah modal sosial alias memperbanyak silaturahmi. Punya circle pertemanan atau networkingyang luas itu ibarat punya privilege tak terlihat yang bisa membuka pintu rezeki, info proyek, relasi distributor, hingga menggaet investor.
“Perbanyak silaturahmi dan bangun jaringan. Dari jaringan itu bisa muncul berbagai peluang,” pesannya menyemangati para peserta Bimtek.
Tapi ingat, circle luas saja tidak akan ada gunanya kalau punya attitude yang minus alias toxic. Reputasi sebuah bisnis itu dibangun pakai darah dan keringat dari konsistensi, kejujuran, dan tanggung jawab tinggi. “Kalau orang melihat kita secara positif, insyaallah akan banyak hal baik yang mengikuti. Menjaga reputasi memang tidak mudah, karena itu harus dimulai dari karakter kita sendiri,” tutur politisi ramah ini memberikan pepatah hidupnya.
Pemerintah Siap Back-up Penuh Lewat Regulasi Pro-UMKM
Di balik kerasnya perjuangan para local pride ini, pemerintah daerah bersama DPRD Sumbar ternyata tidak hanya duduk manis jadi penonton. Muhidi memastikan bahwa jajaran legislatif terus berupaya menciptakan ekosistem bisnis yang kondusif. Salah satu bukti konkretnya adalah disahkannya Perda Sumbar Nomor 5 Tahun 2021 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan UMKM yang dirancang khusus sebagai payung hukum pengusaha kecil.
Lewat regulasi sakti ini, program pemerintah daerah bakal diarahkan supaya lebih relate sama jeritan hati pelaku UMKM di lapangan. Target utamanya jelas: memperluas akses pembiayaan yang mudah, memberikan pendampingan promosi dan digitalisasi, hingga penguatan kapasitas produksi.
Sebagai closing statement, Muhidi mengingatkan para pejuang cuan buat nggak gampang stres dan burnout. Menikmati rollercoaster perjalanan bisnis dengan segala jatuh bangunnya adalah seni tertinggi dari seorang entrepreneur. “Dapat sedikit, kita syukuri. Dapat banyak, Alhamdulillah. Dengan bersyukur, kita belajar menghargai setiap proses dan nikmat yang kita terima,” katanya menutup sesi dengan penuh pencerahan. (TI)



