Bukan Cuma Retorika! Waketum MUI Bongkar 3 ‘Jurus’ Akhlak Nabi Buat Bangun Bangsa, Relate Banget buat Milenial

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH. Muhammad Cholil Nafis dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H DPP PKS, Sabtu, (12/9/2026).
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH. Muhammad Cholil Nafis dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H DPP PKS, Sabtu, (12/9/2026).

JAKARTA, pentingbanget.com – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H yang jatuh pada tahun ini seharusnya tidak sekadar menjadi ajang perayaan seremonial tahunan belaka. Lebih dari itu, momen spiritual ini harus menjadi alarm kebangkitan dan refleksi bagi seluruh elemen bangsa—terutama generasi muda—untuk kembali menjadikan akhlak Rasulullah sebagai kompas utama dalam membenahi karut-marut persoalan di Indonesia.

Pesan menohok nan inspiratif inilah yang digaungkan dengan lantang oleh Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. Muhammad Cholil Nafis. Dalam acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H yang diselenggarakan oleh DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Jakarta pada Sabtu (12/9/2026), Kiai Cholil membedah tuntas bagaimana teladan Nabi bisa diimplementasikan secara konkret di era modern.

Mengusung tema besar “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW, Inspirasi Membangun Negeri”, Kiai Cholil membuka pemaparannya dengan satu kata kunci yang belakangan ini terasa mahal di Indonesia: Persatuan.

Belajar Resolusi Konflik dari Piagam Madinah

Di tengah gempuran polarisasi politik dan maraknya cyber war di media sosial yang kerap memecah belah masyarakat kita, Kiai Cholil mengajak publik untuk kembali flashback pada sejarah gemilang Piagam Madinah.

Menurutnya, saat Rasulullah SAW membangun peradaban di Madinah, hal pertama yang diurus bukanlah kekuatan militer atau dominasi ekonomi, melainkan persatuan lintas golongan. Rasulullah dengan jenius menempatkan persatuan masyarakat yang majemuk sebagai pasal pertama dalam piagam tersebut.

“Untuk membangun Republik ke depan tidak ada yang lain selain persatuan. Kalau umat Islam itu bersatu, saya yakin republik ini bisa dijaga dengan sebaik-baiknya,” tegas Kiai Cholil di hadapan para hadirin.

3 ‘Jurus’ Akhlak Simpel Namun Bikin Impact Besar

Lebih lanjut, cendekiawan Muslim ini membeberkan bahwa untuk mewujudkan persatuan dan kesejahteraan, kita tidak selalu harus memulainya dengan teori yang njelimet. Kiai Cholil merangkum tiga akhlak fundamental namun sangat sederhana dari Rasulullah SAW yang bisa langsung dipraktikkan oleh siapa saja, mulai dari politisi di Senayan hingga anak muda di tongkrongan:

1. Basthul Wajhi (Menampilkan Wajah Ramah & Terbuka)

Di era di mana orang gampang tersulut emosi (baperan) dan gampang cancel culture, akhlak basthul wajhi menjadi sangat krusial. Secara harfiah, ini berarti selalu menebar senyum, menyapa dengan hangat, dan memiliki keterbukaan pikiran (open-minded) terhadap elemen lain. Dalam konteks kebangsaan, ini adalah seni networking dan lobi yang elegan.

“Bagaimana ketersambungan antar ormas dengan partai, bagaimana kita bisa sumringah kalau ketemu, bagaimana kita bisa saling senyum, menyapa, dan saling menerima untuk membawa aspirasinya masing-masing,” papar Kiai Cholil. Ia menambahkan bahwa sikap anti-eksklusif ini adalah kunci agar bangsa kita bisa mencari peluang kolaborasi. “Kita bisa saling membuka diri. Di mana kita bisa berjuang, di mana kita bisa bergerak bersama. Ini untuk meneladani Rasulullah SAW.”

2. Kafful Adza (Mencegah Ke-Toxic-an & Kemudaratan)

Akhlak yang kedua adalah menahan diri dari menyakiti orang lain atau mencegah kemudaratan yang lebih luas. Kalau dalam bahasa anak zaman now, ini namanya berhenti jadi agen toxic!

Bagi sebuah entitas politik seperti partai, Kiai Cholil menjelaskan bahwa kafful adza memiliki dimensi yang sangat strategis. Implementasi nyatanya adalah perjuangan di parlemen untuk merumuskan undang-undang dan regulasi yang pro-rakyat, serta menjegal aturan-aturan yang berpotensi menyengsarakan masyarakat bawah. Mencegah kerusakan harus selalu diprioritaskan ketimbang sekadar mengejar keuntungan kelompok.

3. Badzlun Nada (Rela Berkorban dan Memberi Manfaat)

Terakhir, namun yang paling berat untuk diaplikasikan di era yang serba materialistis ini adalah badzlun nada. Ini adalah mentalitas untuk selalu berkorban dan memberikan value atau manfaat bagi kehidupan orang lain.

Kiai Cholil menyoroti bahwa penyakit kronis bangsa kita saat ini adalah egoisme struktural. Banyak orang yang berebut posisi hanya untuk memperkaya diri sendiri. Padahal, ajaran Nabi sangat berkebalikan dengan hal tersebut. “Fokusnya bukan apa yang bisa kita ambil dari negara ini, tapi apa yang bisa kita sumbangkan dan berikan,” ungkapnya memberikan tamparan keras bagi para pemangku kebijakan.

Acara peringatan Maulid Nabi yang penuh dengan pencerahan gagasan ini turut dihadiri oleh jajaran elite politik dan tokoh agama. Tampak hadir dalam deretan kursi VIP antara lain Wakil Ketua Majelis Syura PKS Ahmad Syaikhu, Presiden PKS Almuzzammil Yusuf (AMY), Ketua Dewan Syariah Pusat (DSP) Muslih Abdul Karim, serta Wakil Ketua MPR RI yang juga menjabat sebagai Ketua Mahkamah Partai PKS, Hidayat Nur Wahid. Kehadiran sejumlah perwakilan ormas Islam juga semakin mempertegas komitmen merajut ukhuwah demi kebangkitan bangsa ke depan. (TI)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *