Ini 3 Pesan Prabowo di KTT BRICS Biar Kita Nggak Terus Bergantung Sama Negara Maju

Presiden Prabowo Subianto menghadiri hari kedua Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS 2026 di India, Minggu (13/9/2026). (Muchlis Jr-Biro Pers Sekretariat Presiden).
Presiden Prabowo Subianto menghadiri hari kedua Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS 2026 di India, Minggu (13/9/2026). (Muchlis Jr-Biro Pers Sekretariat Presiden).

JAKARTA, pentingbanget.com – Panggung diplomasi internasional kembali menjadi saksi ketegasan posisi tawar Indonesia. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, baru saja tampil memukau dengan membawa tiga pesan utama yang sangat strategis dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 yang diselenggarakan di New Delhi, India. Manuver politik luar negeri yang dibawa oleh Kepala Negara ini membuktikan bahwa Indonesia tidak mau hanya menjadi penonton pasif di tengah cepatnya dinamika perubahan geopolitik global.

Kehadiran Prabowo di forum negara-negara berkembang raksasa ini tentu bukan sekadar formalitas diplomatik biasa. Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya membeberkan bahwa ketiga pesan krusial tersebut disampaikan secara lantang dan tajam oleh Presiden saat menghadiri sesi terbatas yang mengusung tema “Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism”. Lalu, apa saja sebenarnya ‘jurus’ diplomasi andalan yang dibawa Indonesia ke meja perundingan elite dunia tersebut?

Fondasi Anti-Dikte: Pangan, Energi, dan Pendidikan Harus Mandiri

Pesan pertama yang menjadi sorotan utama Prabowo adalah urgensi kemandirian dan ketahanan nasional. Di era modern di mana rantai pasok global gampang sekali terganggu krisis, kemampuan suatu negara untuk berdiri kokoh harus dimulai dari kemampuannya menjamin kebutuhan dasar rakyatnya sendiri. Hal ini sangat relatable, karena sebuah bangsa mustahil bisa bersuara lantang di luar jika urusan hajat hidup warganya masih bergantung pada belas kasihan negara lain.

“Kekuatan sebuah negara bermula dari kemampuannya memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya: pangan, energi, dan pendidikan. Dengan fondasi yang kuat, Indonesia tidak akan bergantung atau mudah didikte oleh kekuatan tertentu,” ujar Teddy Indra Wijaya dalam keterangan tertulisnya pada Senin (14/9/2026).

Ketahanan di tiga sektor fundamental ini bukan semata-mata urusan perut domestik. Menurut catatan Sekretariat Kabinet, fondasi yang solid inilah yang menjadi modal utama bagi Indonesia untuk berdiri sejajar, menolak segala bentuk intervensi asing, dan berani memainkan peran kepemimpinan yang lebih aktif di kancah global.

Spirit Asia-Afrika ‘Is Back’! Waktunya Global South Bersatu

Beralih ke pesan kedua, Prabowo menyoroti betapa pentingnya merajut kembali persatuan negara-negara berkembang atau yang kini sangat populer disebut sebagai kubu Global South. Di tengah gempuran hegemoni negara-negara maju, Prabowo mencoba membangkitkan memori kolektif tentang kekuatan solidaritas dengan mengutip pepatah lokal khas Nusantara ke panggung dunia.

“Mengutip pepatah ‘Bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh’, Presiden mengingatkan kembali pentingnya spirit Konferensi Asia-Afrika. Negara-negara Global South kini berdiri setara untuk memperjuangkan kepentingan dan masa depannya sendiri,” ungkap Teddy menjelaskan visi besar Presiden.

Semangat historis dari Konferensi Asia-Afrika (KAA) ini dinilai kembali menemukan momentum relevansi tertingginya di tahun 2026. Saat ini, negara-negara berkembang memiliki posisi tawar yang makin sentral, baik dalam perebutan pangsa pasar ekonomi maupun percaturan geopolitik dunia. Persatuan adalah satu-satunya instrumen logis untuk memastikan suara Global South tidak lagi dianaktirikan dalam menentukan arah tatanan dunia baru.

Ubah Separuh Kekuatan Dunia Jadi Aksi Nyata, Bukan Sekadar Wacana

Pada pesan ketiganya, Prabowo memberikan reality check yang menohok kepada para pemimpin anggota BRICS mengenai besarnya potensi raksasa yang saat ini sedang mereka pegang. BRICS sejatinya mewakili lebih dari separuh total populasi umat manusia di bumi. Potensi demografi dan pasar super jumbo ini harus segera diterjemahkan menjadi kolaborasi konkret yang membuahkan hasil nyata bagi kesejahteraan anggotanya.

“BRICS mewakili separuh populasi dunia. Kekuatan ini harus diubah menjadi kerja sama yang nyata: memperkuat ketahanan pangan dan energi, menghubungkan pasar, modal, teknologi, sumber daya, dan pengetahuan, serta membuka peluang pembangunan yang lebih besar bagi negara-negara berkembang,” tutur Teddy merinci gagasan konektivitas tanpa batas yang ditawarkan oleh pemerintah Indonesia.

Sentil Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Biar Lebih Responsif

Sejalan dengan agenda penguatan ekonomi kolektif, Presiden Prabowo secara lugas juga menyentil sistem tata kelola global yang saat ini kerap dinilai lamban, usang, dan tebang pilih. Ia mendorong terciptanya ekosistem kelembagaan global yang jauh lebih adil dan inklusif. Menurut Prabowo, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memang harus terus dipertahankan sebagai jantung sistem multilateral dunia, namun institusi tersebut mendesak untuk segera direformasi secara menyeluruh.

“PBB harus tetap menjadi pusat sistem multilateral, namun perlu diperkuat agar lebih representatif, responsif, dan mampu menghadirkan hasil konkret bagi masyarakat dunia,” ucap Teddy.

Melalui manuver cerdas dan berani di KTT BRICS 2026 ini, Indonesia kembali memantapkan identitasnya sebagai negara yang bebas-aktif. “Melalui keanggotaan di BRICS, Indonesia terus bergerak aktif mewujudkan tatanan dunia yang lebih adil, setara, dan damai bagi seluruh bangsa,” pungkas Teddy. Langkah strategis ini menjadi bukti autentik bahwa Indonesia telah bersiap mengambil alih kemudi sebagai motor penggerak utama kebangkitan negara-negara berkembang di panggung peradaban dunia. (TI)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *