
Sore itu, sembari menyesap seduhan kopi Arabica single-origin di sudut kota Padang, lini masa layar gawai saya dipenuhi oleh satu pemandangan yang memantik rasa haru sekaligus bangga. Puluhan delegasi negara, termasuk Indonesia, serentak berdiri dan melakukan aksi walk-out dari ruang Sidang Majelis Umum PBB tepat saat Perdana Menteri Israel melangkah ke mimbar.
Di tengah kebisingan diplomasi global yang sering kali hipokrit, langkah kosong yang ditinggalkan di kursi-kursi PBB itu justru meneriakkan pesan yang sangat nyaring: nurani dunia belum sepenuhnya mati, dan standar ganda para penyokong zionis mulai runtuh perlahan.
Yang seharusnya membuat kita terhenyak, tepat ketika kita merasa ada kemenangan kecil di meja diplomasi, realitas di lapangan seolah menampar kesadaran kita. Genosida di Gaza belum berhenti, dan yang tak kalah mengkhawatirkan, proyek yudaisasi serta penyerbuan ke kompleks suci Masjidil Aqsha oleh kelompok ekstremis semakin sistematis. Ini bukan lagi sekadar sengketa tapal batas negara, melainkan invasi langsung ke jantung akidah umat Islam.
Sebagai Muslim, kita diikat oleh sabda tegas Rasulullah SAW yang menganalogikan umat Islam layaknya satu tubuh; jika satu bagian sakit, seluruh tubuh akan merintih dalam demam dan sulit tidur. Persoalannya, sudahkah kita benar-benar “demam” melihat penderitaan saudara kita di Palestina? Ataukah kita justru sedang dijangkiti penyakit Al-Wahn —cinta dunia dan takut mati—yang membuat kita, meminjam istilah Nabi, sekadar menjadi buih di lautan meski jumlah kita miliaran?
Sejarah mencatat, ikatan batin antara Indonesia dan Palestina bukanlah simpati musiman. Jauh sebelum kemerdekaan kita paripurna, para ulama Nusantara telah meletakkan fondasi ukhuwah ini. Pertemuan para kiai PBNU dengan tokoh Palestina di Pesantren Tebuireng baru-baru ini adalah pengingat bahwa komitmen keummatan itu diwariskan dari generasi ke generasi, bukan sekadar respons reaktif atas berita viral semata.
Sayangnya, realitas umat hari ini sering kali terjebak pada euforia sesaat. Kita mudah menangis melihat video reruntuhan di Gaza, kita cepat mengumpulkan donasi di pekan-pekan pertama, namun tak lama kemudian, fokus kita kembali terpecah oleh isu-isu domestik yang silih berganti. Simpati emosional itu penting, tetapi ia tidak akan membebaskan Al-Aqsa jika tidak dikonversi menjadi aksi nyata yang berkesinambungan.
Perlawanan menuntut napas panjang. Mengubah keadaan tidak selalu harus dengan mengangkat senjata di garis depan. Kita bisa memulainya dari lingkaran terkecil. Gunakan kekuatan lisan dan jempol kita untuk terus melawan disinformasi di media sosial. Gunakan kekuatan ekonomi kita dengan konsisten memboikot produk-produk yang mengalirkan pelurunya ke dada anak-anak Gaza. Gunakan kekuatan politik kita untuk mengawal dan mendukung ketegasan diplomasi pemerintah Indonesia di forum internasional.
Dan di atas segalanya, gunakan kekuatan spiritual kita. Jangan biarkan doa untuk keselamatan penduduk Gaza dan pembebasan Al-Aqsa absen dari sujud-sujud kita, seolah-olah Qunut Nazilah hanyalah tren musiman yang bisa kedaluwarsa.
Ayo ramaikan CFD hari Minggu besok (04/10) di halaman Kantor Gubernur Sumatera Barat, ada Aksi Solidaritas dan Konser Amal Peduli Palestina. Dihadiri oleh Dubes Palestina untuk RI, Opick, Izzatul Islam, dan tokoh nasional/internasional lainnya. Suarakan kepedulianmu untuk Palestina!
Krisis di Palestina adalah ujian sejauh mana ukhuwah kita benar-benar hidup, bukan sekadar romansa di atas mimbar. Mari beranjak dari sekadar meratapi keadaan. Perjuangan ini masih panjang, dan setiap dari kita memiliki peran yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.
Gus Ibad – Pimpinan Pesantren Surau Al-Qur’an Padang & Pembina Pemuda Masjid Raya Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Sumbar



