
JAKARTA, pentingbanget.com – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belakangan ini kian masif terjadi rupanya tidak hanya mengancam keselamatan dan kesehatan masyarakat. Jauh di dalam kawasan hutan, terdapat ribuan satwa liar serta keanekaragaman hayati yang kelangsungan hidupnya ikut terancam akibat kobaran api yang melahap habitat asli mereka. Ironisnya, berbeda dengan manusia yang memiliki insting serta sarana komunikasi untuk mengevakuasi diri, satwa liar di hutan tidak memiliki kemampuan untuk mencari pertolongan di tengah kepungan asap mematikan.
Menyadari urgensi keselamatan fauna yang semakin mengkhawatirkan tersebut, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengambil sikap tegas. Pemerintah menginstruksikan kepada seluruh jajaran Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di berbagai wilayah terdampak untuk segera memperkuat langkah proteksi satwa. Melalui kebijakan ini, operasi pemadaman api di lapangan diwajibkan berjalan secara beriringan dengan proses evakuasi satwa liar.
Misi Penyelamatan Menjadi Prioritas Setara
Instruksi strategis ini ditegaskan langsung oleh Menteri Kehutanan, Raja Antoni, di sela-sela peninjauannya di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21 SM Padang Sugihan, Sumatera Selatan, pada Sabtu (19/9/2026). Beliau menekankan bahwa satwa liar merupakan aset keanekaragaman hayati milik negara yang wajib dipertahankan.
“Saya sudah perintahkan seluruh jajaran BKSDA, di semua balai. Untuk kita berjuang memadamkan api itu penting, tapi tak kalah penting adalah memproteksi satwa liar kita yang merupakan kekayaan yang luar biasa yang harus kita proteksi secara bersama-sama,” ujar Raja Antoni memberikan arahan komandonya.
Lebih lanjut, ia menyoroti fakta bahwa kelompok satwa sangat rentan terhadap bencana ekologis yang dipicu oleh manusia atau anomali cuaca. “Dampak karhutla ini tidak hanya kepada manusia, tapi makhluk hidup yang lain yang kebetulan mereka adalah makhluk hidup yang vulnerable terhadap karhutla,” jelasnya. “Dan mereka makhluk hidup yang tidak bisa meminta tolong, ya. Meminta, memberikan aba-aba SOS dan lain sebagainya. Berbeda dengan manusia.”
Fasilitas Oksigen Darurat dan Penerjunan Dokter Hewan
Langkah mitigasi dari pemerintah ini nyatanya tidak sekadar imbauan normatif. Kemenhut telah membekali tim lapangan dengan berbagai sarana medis darurat yang dikhususkan untuk penanganan satwa. Fasilitas krusial seperti tabung oksigen hingga alat nebulizer turut disiagakan untuk mengobati satwa yang kedapatan mengalami gangguan pernapasan akut akibat terlalu banyak menghirup kabut asap beracun.
Guna memastikan setiap satwa mendapatkan prosedur perawatan yang presisi, pemerintah juga menerjunkan langsung dukungan dokter hewan profesional ke berbagai titik evakuasi agar diagnosis dan penanganan medis dapat berjalan seoptimal mungkin.
Jalur Cepat Pelaporan Evakuasi Orangutan
Salah satu fokus utama pemerintah dalam krisis lingkungan ini adalah keselamatan populasi orangutan. Akibat habitatnya yang hangus terbakar, banyak orangutan yang panik dan berujung tersesat hingga memasuki kawasan permukiman warga atau desa sekitar.
Merespons potensi konflik satwa dan manusia tersebut, pemerintah bersama lembaga konservasi mitra telah merilis jalur pelaporan cepat. Warga diberikan imbauan yang sangat jelas: apabila menemukan orangutan yang tersesat di area permukiman, masyarakat dilarang keras melakukan penanganan secara mandiri atau berinisiatif memberikan makan. Masyarakat diminta untuk segera melapor melalui layanan call center resmi agar tim ahli dari BKSDA dapat meluncur ke lokasi dan mengevakuasi satwa tersebut dengan standar keamanan tertinggi.
Kolaborasi yang solid antara kesiapsiagaan aparatur negara dan tingkat kesadaran masyarakat ini diyakini akan menjadi kunci keberhasilan dalam menyelamatkan kekayaan satwa liar Nusantara di tengah kepungan karhutla. (TI)



