
PADANG, pentingbanget.com – Di era gempuran algoritma media sosial yang bikin screen time harian kita meroket tajam, sadar nggak sih kalau cara kita mengonsumsi informasi keagamaan juga ikut bergeser total? Kalau dulu mimbar dakwah selalu identik dengan kajian konvensional dan komunikasi satu arah di dalam masjid, kini panggung penyebaran nilai kebaikan sudah bertransformasi secara masif ke ruang digital. Merespons pergeseran lifestyle ini, sebuah gebrakan epik berskala nasional baru saja resmi diluncurkan di Ranah Minang melalui soft launching Program Da’i Sejuta Mimbar (DSM) di Aula Kantor Gubernur Sumatera Barat pada Jumat (18/9/2026).
Program super inovatif ini bukanlah event kaleng-kaleng, melainkan buah kolaborasi strategis tingkat tinggi antara Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Republik Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Harika Foundation. Alih-alih menggunakan pendekatan kuno yang menempatkan Generasi Z sekadar sebagai objek sasaran edukasi yang pasif, ketiga institusi raksasa ini justru mengambil langkah out of the box. Mereka sepakat menantang anak-anak muda untuk take action dan menjadi produsen utama konten dakwah digital.
Setiap Pemegang Smartphone Berdiri di Atas Mimbarnya Sendiri
Chairman of Harika Foundation, Syuhelmaidi Syukur, membeberkan insight menarik soal titik terobosan dari program DSM ini. Baginya, perkembangan teknologi informasi telah mengubah lanskap komunikasi anak muda secara permanen. Ruang dakwah harus berani beradaptasi dan berekspansi ke platform digital yang saat ini menjadi nyawa keseharian Gen Z.
Memegang prinsip bahwa setiap anak muda yang menggenggam ponsel pintar pada dasarnya sedang berdiri di atas mimbarnya sendiri, Syuhelmaidi menekankan pentingnya merebut ruang kreatif di media sosial.
“Secara sederhananya, mimbar dakwah kini tidak hanya di masjid tetapi juga berpindah ke media digital terutama medsos,” kata Syuhelmaidi memberikan analogi tajam terkait konsep program ini.
Sebagai sebuah flagship youth movement, DSM secara khusus dirancang dengan karakter yang young, kreatif, dan sangat progresif. Tujuannya sangat jelas: melahirkan jajaran generasi muda Muslim yang tidak hanya inspiratif dan adaptif, tetapi juga siap mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan di era kecerdasan buatan dan ekonomi digital.
Kampanye ‘Haji Muda’ dan Riset Mendalam Perilaku Gen Z
Salah satu agenda utama yang disusupkan dalam konten dakwah ini adalah kampanye sadar literasi keuangan sejak dini, khususnya terkait kesiapan finansial calon jemaah muda. Di sinilah letak pembagian peran strategis dari ketiga lembaga yang berkolaborasi. BPKH bertindak sebagai motor penggerak literasi keuangan haji, sementara BRIN bersama kalangan akademisi menyuplai database riset mendalam mengenai pola perilaku menabung, tata kelola dana haji, hingga tren konsumsi informasi keagamaan di kalangan anak muda.
Harika Foundation kemudian tampil sebagai eksekutor di lapangan yang bertugas menerjemahkan bahasa birokrasi dan hasil riset yang kaku tersebut menjadi format visual dan bahasa slang yang lebih akrab, interaktif, dan mudah dicerna oleh Gen Z. Anggota Badan Pelaksana BPKH, Harry Alexander, mengingatkan bahwa antrean masa tunggu ibadah haji di berbagai daerah saat ini sangatlah panjang. Oleh karena itu, keputusan untuk mendaftar haji sejak usia belia memiliki value yang amat strategis.
“Haji bukan hanya tentang keberangkatan ke Tanah Suci, tetapi juga tentang membangun komitmen jangka panjang melalui perencanaan keuangan yang disiplin. Semakin dini memulai, semakin besar peluang generasi muda mewujudkan cita-cita berhaji,” ujar Harry Alexander dalam sambutannya di hadapan audiens.
Detail Kompetisi, Aktivasi Komunitas, dan Hadiah Skala Sultan
Lewat ajang kompetisi DSM ini, para peserta ditantang habis-habisan untuk memproduksi mahakarya konten dakwah yang kreatif, relevan dengan struggle keseharian anak muda, dan menyelipkan pesan kesiapan haji sejak dini. Kerennya lagi, peserta tidak dibiarkan berjuang sendirian. Mereka akan mendapatkan pendampingan alias mentorship eksklusif agar bisa upgrade skill sebagai kreator dakwah digital profesional dan tergabung dalam jejaring syiar yang lebih luas.
Sasaran program raksasa ini mencakup empat pilar kelompok utama: (1) pelajar, santri, dan mahasiswa; (2) da’i muda dan content creator; (3) profesional muda dan influencer muslim; serta (4) komunitas remaja masjid dan organisasi kepemudaan Islam. Saat ini, gerbang pendaftaran dan pengunggahan karya sudah resmi dibuka melalui situs SejutaMimbar.id dan akan terus berlangsung hingga tanggal 31 Oktober 2026.
Sistem penjuriannya pun nggak main-main karena menonjolkan sisi futuristik. Seleksi tahap awal akan menggunakan sistem kurasi berbasis Artificial Intelligence (AI), disusul dengan tahap penjurian final oleh dewan pakar, serta penentuan juara favorit berdasarkan akumulasi voting dukungan terbanyak di aplikasi. Untuk menjaga hype kompetisi ini, panitia juga tengah menggelar roadshow luring dan daring ke berbagai kota strategis.
“Aktivasi komunitas antara lain menyasar penerima beasiswa BPKH, penerima beasiswa BSI Maslahat, serta komunitas lain yang dinilai dapat eksis dalam kegiatan DSM,” pungkas Syuhelmaidi menjelaskan strategi ekspansi mereka.
Bicara soal apresiasi, reward yang disiapkan benar-benar bikin ngiler! Mulai dari tabungan haji gratis dari BPKH, paket ibadah umrah, sertifikat bertaraf nasional, program spiritual journey, hingga tiket global exposure ke Singapura menanti para pemenang di babak grand final. Acara peluncuran super megah ini turut disaksikan langsung oleh Gubernur Sumbar Mahyeldi, Deputi Bidang Penghimpunan BPKH Juni Supriyanto, Pakar Kebijakan Ekonomi Irwanda Wisnu Wardhana, serta perwakilan penggerak pemuda Rizky Prayogo Ramadhan. (TI)



