
JAKARTA, pentingbanget.com — Perkembangan artificial intelligence (AI), media sosial seperti TikTok, hingga dinamika politik era digital bikin cara kita mengonsumsi informasi berubah drastis. Menyikapi hal ini, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI sekaligus Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), mengajak anak muda untuk berpikir lebih kritis dan berani mengambil peran kepemimpinan.
Pesan tersebut disampaikan Ibas saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Kebangsaan bertajuk “AI, TikTok, dan Politik: Siapa yang Menentukan Masa Depan Indonesia?” di Ruang Abdul Muis, Jakarta, Kamis (3/9/2026). Ratusan mahasiswa dari berbagai kampus ternama seperti Universitas Brawijaya, UIN Jakarta, IPB University, UPN Veteran Jakarta, Universitas Al-Azhar Indonesia, hingga UHAMKA turut memadati diskusi ini.
Dalam paparannya yang disunting dari laman resmi Partai Demokrat, Ibas menyoroti fenomena filter bubble dan jebakan algoritma media sosial. Menurutnya, sistem algoritma terus mempelajari perilaku pengguna dari apa yang ditonton, disukai, hingga durasi layar. Akibatnya, kita kerap cuma disuapi informasi yang sesuai dengan preferensi pribadi saja.
“Kadang-kadang kita merasa sedang memilih konten. Padahal algoritma juga sedang memilih apa yang akan kita lihat,” sentil Ibas di hadapan para mahasiswa.
Kondisi ini jadi makin krusial saat masuk ke ranah politik dan kebijakan publik. Politisi lulusan S2 Nanyang Technological University ini pun mewanti-wanti Gen Z dan Milenial agar tidak gampang tergiur dengan tren viral.
“Viral bukan berarti benar. Informasi bisa dibagikan jutaan kali, tetapi tetap bisa salah. Demokrasi membutuhkan kebebasan berbicara, tetapi di era digital, kita juga harus punya kebebasan untuk berpikir, memeriksa data, dan mendengar berbagai perspektif,” tegasnya.
Ibas menilai politisi zaman sekarang memang harus adaptif dan hadir di media sosial seperti TikTok agar gagasan mereka tersampaikan. Meski begitu, ia menggarisbawahi kalau politik tidak boleh bergeser jadi ajang kontes popularitas belaka demi kejar views, likes, atau followers.
“Politisi boleh menjadi kreator. Tetapi politik bukan tentang siapa yang paling viral. Politik adalah tentang siapa yang mampu menawarkan solusi dan bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat. Belum tentu views sama dengan leadership, belum tentu followers sama dengan trust,” ujar Wakil Ketua Umum Partai Demokrat tersebut.
Menepis anggapan kalau anak muda zaman sekarang apatis terhadap politik, Ibas justru menilai sebaliknya. Menurutnya, ketika Gen Z peduli pada biaya pendidikan, ketersediaan lapangan kerja, hingga isu lingkungan, itu artinya mereka sudah peka politik.
“Ada satu hal yang tidak boleh kita serahkan kepada AI, tidak boleh kita serahkan kepada algoritma, yaitu masa depan Indonesia. Indonesia adalah milik kita dan milik generasi yang akan datang,” tutup Ibas. (TI)



