
SLEMAN, pentingbanget.com – Hidup di negara yang dijuluki Ring of Fire bikin masyarakat Indonesia tidak boleh terlalu santai membicarakan soal mitigasi. Bencana alam, mulai dari gempa bumi, erupsi gunung berapi, sampai cuaca ekstrem, bisa datang kapan saja tanpa permisi. Menyadari tingginya ancaman ini, Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah baru saja merampungkan sebuah langkah besar dan super strategis.
Bertempat di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya (BBPPMPV), Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, MDMC sukses menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2026. Forum nasional berskala besar yang berlangsung maraton sejak Jumat (11/9/2026) hingga Minggu (13/9/2026) ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul pengurus. Rakernas ini menjelma menjadi dapur utama untuk menggodok strategi penanggulangan bencana yang lebih modern, efektif, dan relevan dengan tantangan zaman now.
Mengubah Paradigma: Dari Responsif Menjadi Antisipatif Berbasis Data
Langkah out of the box langsung terlihat dari tema besar yang diusung dalam Rakernas kali ini, yakni “Sinergi dan Inovasi: Penguatan Kapasitas Wilayah dalam Manajemen Bencana Berbasis Teknologi dan Kearifan Lokal”. Tema ini menjadi sinyal kuat bahwa Muhammadiyah ingin membawa manajemen kebencanaan naik kelas. Penanganan bencana nggak bisa lagi cuma mengandalkan otot, logistik darurat, atau relawan konvensional pasca-kejadian, tapi harus bertransformasi menjadi lebih antisipatif menggunakan mahadata (big data) dan teknologi digital.
Salah satu fokus utama yang dibedah habis-habisan selama tiga hari pelaksanaan adalah optimalisasi pemanfaatan teknologi sistem peringatan dini (early warning system) yang berbasis geospasial. Menariknya, kecanggihan satelit dan pemetaan digital ini tidak serta-merta menggusur tradisi. MDMC justru mencari formula jitu untuk mengawinkan teknologi mutakhir tersebut dengan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat setempat agar literasi evakuasi lebih mudah dipahami oleh warga di pelosok daerah.
Bertabur Tokoh Nasional dan Sinergi Lintas Sektor
Keseriusan Rakernas 2026 ini juga tercermin dari padatnya jumlah peserta dan tamu undangan penting yang hadir. Tercatat ada 135 peserta inti yang merupakan pentolan dari pimpinan LRB-MDMC PP Muhammadiyah serta perwakilan MDMC wilayah se-Indonesia.
Pembukaannya pun berlangsung megah dan dihadiri oleh sekitar 165 tamu undangan lintas institusi, mulai dari ujung tombak pemerintah seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, perwakilan Kementerian Kesehatan, hingga jajaran elite Organisasi Otonom Muhammadiyah. Acara ini secara resmi dibuka oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, setelah sebelumnya diawali dengan sambutan kunci dari Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno.
Untuk memperluas cakrawala strategi kesiapsiagaan bencana, Rakernas ini turut menggelar sesi diskusi panel tingkat tinggi. Nama-nama besar didapuk menjadi narasumber utama, sebut saja Ketua Umum PMI Jusuf Kalla, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Anggota DPR RI Singgih Januratmoko, hingga tokoh kunci sekaligus Pengarah BNPB, Rahmawati Husein. Diskusi ini sukses membedah berbagai blind spot atau titik buta dalam sistem manajemen krisis di Tanah Air.
Evaluasi Ketat dan Skema Fundraising Modern bersama Lazismu
Selain merumuskan strategi berbasis teknologi, Rakernas ini juga menjadi momen untuk melakukan quality controlorganisasi. Agenda diisi dengan diskusi per bidang dan evaluasi kinerja secara transparan untuk empat wilayah regional MDMC di seluruh Indonesia. Evaluasi ini penting agar setiap wilayah memiliki standar operasional yang sama kuatnya saat terjadi kondisi tanggap darurat.
Urusan keberlanjutan napas organisasi juga tidak luput dari pembahasan. Manajemen bencana tentu membutuhkan dukungan logistik dan finansial yang stabil. Oleh karena itu, Rakernas 2026 merumuskan penguatan kemitraan strategis dan skema penggalangan dana (fundraising) modern yang berkolaborasi langsung dengan Lazismu (Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sadaqah Muhammadiyah). Sinergi keuangan umat ini diproyeksikan mampu menjadi tulang punggung pembiayaan program kemanusiaan yang lebih mandiri dan fleksibel.
Suara Akar Rumput yang Menjadi Blueprint Nasional
Goal utama dari musyawarah nasional ini adalah melahirkan rekomendasi strategis berupa Rencana Aksi Wilayah (RAW). Dokumen ini nantinya akan menjadi blueprint atau panduan terarah bagi seluruh relawan dan pengurus di daerah guna meningkatkan resiliensi (ketangguhan) masyarakat akar rumput dalam merespons ancaman bencana.
Ketua LRB-MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Budi Setiawan, memberikan penegasan bahwa setiap kebijakan yang diambil dalam Rakernas ini berasal dari pengalaman riil di lapangan, bukan sekadar teori di atas kertas.
“Rakernas ini memang secara khusus dirancang sebagai ruang yang inklusif untuk menyerap sekaligus mendokumentasikan berbagai praktik baik manajemen risiko bencana di tingkat daerah. Pengalaman lapangan dari masing-masing wilayah tersebut kemudian kita sinergikan menjadi program penanganan dan pengurangan risiko bencana yang lebih terstruktur, inklusif, serta berkelanjutan untuk masa depan,” jelas Budi Setiawan memaparkan visi organisasinya ke depan.
Kini, dengan kombinasi antara ketangguhan mental relawan, dukungan pendanaan umat, kearifan lokal, serta presisi teknologi geospasial, MDMC Muhammadiyah telah bersiap menjadi pionir keselamatan masyarakat dalam menghadapi segala ancaman alam di masa mendatang. (MS)



