
PADANG, pentingbanget.com – Hujan deras, debit air sungai mendadak meluap, dan lagi-lagi warga harus panik berlarian menyelamatkan diri! Banjir bandang yang kembali menerjang wilayah Kota Padang, Sumatera Barat, memang bikin kita semua geleng-geleng kepala sekaligus prihatin mendalam. Musibah yang seolah sudah jadi “tamu langganan” tiap musim hujan ini kembali memporak-porandakan pemukiman dan menyisakan trauma bagi warga. Merespons kondisi yang bikin ngenes ini, Anggota DPR RI asal Sumatera Barat, Nevi Zuairina, langsung angkat suara keras!
Politisi Fraksi PKS ini nggak cuma sekadar numpang lewat untuk menyampaikan ucapan duka cita. Jauh dari itu, ia menyentil para pemangku kebijakan agar tidak hanya hadir dan gercep membagikan bantuan saat hari H bencana saja, tetapi abai dalam menuntaskan akar permasalahannya.
Melalui pernyataan resminya, Nevi mengungkapkan rasa simpatinya yang terdalam bagi warga Padang yang lagi-lagi harus berhadapan dengan ganasnya alam.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Hati saya bersama saudara-saudara kita yang sedang menghadapi musibah ini. Saya membayangkan betapa beratnya perjuangan keluarga yang harus menyelamatkan diri, mengkhawatirkan keselamatan anak-anak, dan menghadapi kerusakan tempat tinggal,” ungkap Nevi dengan nada prihatin. Ia juga mendoakan agar seluruh masyarakat terdampak diberikan ekstra kekuatan dan ketabahan.
Bukan Cuma Soal Mie Instan dan Tenda Darurat!
Usut punya usut, fenomena banjir dan air bah yang terus-terusan berulang di Sumatera Barat ini memang sebuah PR besar yang nggak bisa diselesaikan dengan cara instan. Nevi Zuairina menegaskan bahwa ini harus jadi tamparan keras dan perhatian super serius buat semua pihak, baik di level daerah maupun pusat.
Menurut anggota Komisi IV DPR RI ini, model penanganan bencana yang cuma mengandalkan langkah darurat—seperti bagi-bagi sembako, mie instan, atau mendirikan tenda pengungsian—jelas nggak cukup lagi. Sumatera Barat butuh suntikan kebijakan jangka panjang yang terintegrasi secara total.
Apa saja bentuknya? Nevi menjabarkan perlunya pemulihan kawasan hulu yang mungkin sudah gundul atau beralih fungsi, perbaikan tata kelola Daerah Aliran Sungai (DAS), pembangunan infrastruktur pengendali banjir yang lebih tangguh, hingga penguatan sistem peringatan dini (early warning system) yang benar-benar berfungsi maksimal, bukan cuma sekadar pajangan!
Waktunya Pemerintah Pusat dan Daerah Serius Berkolaborasi!
Nggak bisa dipungkiri, ego sektoral kadang bikin penanganan bencana jadi mandek. Oleh karena itu, Nevi sangat mewanti-wanti agar pemerintah pusat dan pemerintah daerah (Pemprov Sumbar maupun Pemkot Padang) bisa membuang ego masing-masing dan mulai jalan bareng.
“Pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus berjalan bersama. Kita membutuhkan sinergi yang nyata, perencanaan yang matang, serta komitmen berkelanjutan agar keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama,” tegas wakil rakyat dari Dapil Sumbar II tersebut. Sinergi ini ibarat harga mati kalau Sumbar mau benar-benar lepas dari jerat bencana tahunan.
Mengawal Kebutuhan Dasar dan Mengobati Trauma Mental
Satu hal yang sering luput dari perhatian publik pasca-bencana adalah soal kesehatan mental dan perlindungan kelompok rentan. Legislator ini mengingatkan bahwa pasokan kebutuhan dasar wajib terpenuhi tanpa kompromi. Mulai dari urusan logistik makanan, ketersediaan air bersih yang krusial banget pasca banjir, akses pelayanan kesehatan gratis, hingga tempat pengungsian yang manusiawi dan layak huni.
Nevi juga memberikan penekanan khusus pada perlindungan bagi anak-anak, perempuan, dan kelompok lansia yang biasanya menjadi korban paling menderita saat bencana terjadi.
Bagi Nevi, setiap banjir bandang pasti menyisakan luka psikologis yang tidak selalu kasat mata. Hilangnya rasa aman saat hujan turun, proses pendidikan anak yang terpaksa mandek karena sekolah kerendam lumpur, hingga terhentinya roda ekonomi keluarga, semuanya adalah persoalan kemanusiaan level dewa yang menuntut empati dan perhatian serius dari negara.
“Jangan biarkan masyarakat menghadapi ketakutan yang sama setiap musim hujan. Negara harus hadir, masyarakat harus saling menguatkan, dan kita semua harus bergotong royong membangun Sumatera Barat yang lebih aman dan tangguh,” pungkasnya menutup pernyataan.
Mengapa Ini Penting?
- Alarm Keras Tata Ruang: Berulangnya banjir bandang di Padang mengindikasikan adanya kerusakan lingkungan, terutama di kawasan hulu dan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang butuh intervensi segera.
- Kritik Penanganan Bencana: Menunjukkan bahwa pembagian bantuan logistik darurat saja tidak akan menyelesaikan masalah jika tidak dibarengi dengan mitigasi bencana jangka panjang dan infrastruktur pengendali banjir.
- Fokus pada Dampak Psikologis: Bencana bukan hanya soal kerugian materi, tapi juga hilangnya rasa aman, terganggunya pendidikan, dan ekonomi warga yang harus jadi prioritas pemulihan oleh pemerintah.
- Desakan Sinergi: Mengingatkan kembali bahwa penyelesaian krisis lingkungan di Sumbar butuh teamworkyang solid antara pusat dan daerah, bukan kerja jalan sendiri-sendiri.
Musibah banjir bandang di Kota Padang kali ini seharusnya menjadi momentum “sentilan” terakhir bagi pemerintah untuk benar-benar berbenah. Warga Sumbar sudah terlalu lelah jika harus terus-terusan was-was setiap kali awan gelap menggantung di langit. Kini saatnya menagih janji dan komitmen pemerintah: mampukah mereka menghadirkan solusi konkret yang terintegrasi, ataukah ini hanya akan berakhir sebagai rutinitas evakuasi tahunan yang bikin ngenes? Kita tunggu saja langkah gercep dari para pemangku kebijakan! (TI)



