Geger Video Viral Napi Joget dan Pesta Sabu, Rutan Depok Langsung Periksa 22 Tahanan!

Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Depok, Kota Depok, Jawa Barat.
Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Depok, Kota Depok, Jawa Barat.

DEPOK, pentingbanget.com – Jagat media sosial baru saja dibikin geger oleh sebuah pemandangan yang sama sekali nggak terduga dari balik jeruji besi! Beredarnya sebuah video viral yang memperlihatkan sekelompok narapidana (napi) tampak asyik berjoget dan diduga menggelar pesta narkoba di dalam Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Depok, langsung memicu respons gercep dari pihak berwenang. Nggak butuh waktu lama sejak video itu bikin heboh publik akhir pekan ini, jajaran Rutan Depok langsung turun tangan melakukan inspeksi mendadak dan pemeriksaan maraton untuk mengusut tuntas insiden tersebut!

Fakta di lapangan memang cukup bikin publik geleng-geleng kepala. Dalam rekaman video amatir berdurasi singkat yang beredar luas itu, terlihat suasana di dalam sebuah ruangan sel tahanan yang riuh dan diiringi dentuman musik yang cukup keras. Yang menjadi sorotan utama, salah seorang tahanan terekam jelas tengah memegang botol plastik modifikasi yang diduga kuat merupakan alat isap sabu alias bong!

Menanggapi kehebohan ini, Kepala Rutan (Karutan) Kelas I Depok, Ario Galih Maduseno, akhirnya angkat bicara secara terbuka. Dikutip dari pemberitaan detikcom dan Sudutpandang.id, beliau membenarkan bahwa insiden yang terekam dalam video tersebut memang benar terjadi di wilayah pengawasannya. “Langkah-langkah penanganan sudah kami lakukan, termasuk pelaporan ke pihak kepolisian,” tegas Ario saat memberikan keterangan resminya. Pihak Rutan memastikan pengusutan kasus ini akan dilakukan secara transparan tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Gercep Bertindak, 22 Napi dan 2 ‘Orang Dalam’ Diperiksa Maraton!

Usut punya usut, pihak Rutan Depok nggak mau main-main dan langsung menggelar penyelidikan internal secara maraton. Tim gabungan langsung diturunkan untuk menyisir dan mengevaluasi kamar tahanan yang identik dengan lokasi di dalam rekaman video tersebut.

“Kalau kita pemeriksaan di kamar itu ada kurang lebih 22 warga binaan dan yang kami dalami lagi ada sekitar 3 sampai 4 orang,” ungkap Karutan Ario Galih, sebagaimana dilansir dari laporan Peradaban.id. Dari hasil penggeledahan, petugas juga telah menyita sejumlah barang bukti krusial, termasuk telepon seluler (HP) selundupan dan perangkat pengisap sabu yang terekam di video, untuk dijadikan bahan penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwajib.

Yang bikin kasus ini makin jadi sorotan tajam adalah adanya indikasi keterlibatan oknum petugas rutan sendiri. Ario Galih blak-blakan mengakui bahwa saat ini ada dua orang anak buahnya yang turut diperiksa intensif karena diduga kuat memfasilitasi masuknya barang-barang terlarang tersebut. “Jelas petugas kami, pegawai Rutan Depok. Posisinya ada di jajaran satuan pengamanan dan staf di bimbingan kerja,” jelas Ario. Biar prosesnya objektif, tim pemeriksa gabungan ini juga melibatkan aparat dari Kantor Wilayah (Kanwil), Ditjen Pemasyarakatan (Ditjenpas) Jawa Barat, serta kepolisian setempat.

Ironi Razia ‘Zero Narkoba’ dan Kendala Overkapasitas Rutan

Ada satu fakta yang cukup mengejutkan di balik mencuatnya kasus ini. Dikutip dari laporan Telusur.co.id, kejadian pesta sabu ini ternyata terkuak hanya berselang 11 hari setelah Rutan Depok mengadakan razia gabungan skala besar pada 23 September 2026 lalu.

Waktu itu, petugas sudah menyisir empat blok hunian dan melakukan tes urine terhadap 50 napi secara acak. Hasilnya saat itu diklaim negatif semua, dan Rutan Depok sempat mencatatkan status “zero” untuk temuan ponsel, senjata tajam, maupun narkoba. Namun, dengan bocornya video ini, efektivitas pengawasan harian di dalam rutan kembali menjadi pertanyaan besar bagi publik.

Menanggapi situasi ini, Karutan Galih memaparkan realita pelik di lapangan yang menjadi kendala utama pengawasan, yakni masalah klasik overkapasitas. Saat ini, Rutan Depok harus menampung sekitar 1.279 warga binaan. Ironisnya, jumlah tahanan yang membeludak itu hanya dijaga oleh sekitar 10 petugas saja dalam satu kali shift jaga! Perbandingan rasio penjaga dan tahanan yang sangat jomplang ini diakui membuat celah keamanan menjadi sangat rentan untuk ditembus oleh oknum tak bertanggung jawab.

Meskipun dihadapkan pada keterbatasan personel, Ario Galih menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pembersihan di dalam instansinya. Pihaknya berjanji akan memberikan sanksi tegas—baik pemecatan maupun proses pidana—bagi siapa saja yang terbukti ikut andil dalam peredaran gelap narkoba di rutan.

Mengapa Ini Penting?

  • Respons Cepat Pihak Rutan: Tindakan langsung Karutan Depok memeriksa 22 warga binaan dan menyita barang bukti menunjukkan komitmen untuk mengusut insiden ini tanpa menutupi masalah internal.
  • Pemberantasan Oknum Internal: Pemeriksaan terhadap dua staf (satuan pengamanan dan bimbingan kerja) menjadi langkah krusial untuk memutus mata rantai penyelundupan fasilitas ilegal ke dalam sel.
  • Sorotan Isu Overkapasitas: Kasus ini kembali membuka mata publik tentang kondisi lapas/rutan di Indonesia, di mana rasio 1.279 napi berbanding 10 petugas jaga menciptakan beban pengawasan yang sangat berat.

Kasus video viral di Rutan Depok ini harus menjadi momentum perbaikan menyeluruh bagi sistem pemasyarakatan kita. Keterbatasan personel memang sebuah tantangan nyata di lapangan, namun integritas petugas tetap menjadi benteng dan kunci utama. Publik kini menanti ketegasan proses hukum terhadap para napi dan oknum petugas yang terbukti terlibat. Jangan sampai jeruji besi yang seharusnya menjadi tempat pembinaan dan pemulihan, justru disalahgunakan menjadi tempat yang memfasilitasi pelanggaran hukum lanjutan! (TI)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *