Lebih dari Sekadar Lomba, Menag Lantik 155 Hakim MTQ Nasional XXXI 2026 di Semarang dan Dorong Standardisasi

Melantik tujuh Dewan Pengawas dan 155 Dewan Hakim MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (12/9/2026)
Melantik tujuh Dewan Pengawas dan 155 Dewan Hakim MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (12/9/2026).

SEMARANG, pentingbanget.com – Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu negara dengan tradisi literasi Al-Qur’an terkuat di dunia. Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar secara resmi telah melantik tujuh anggota Dewan Pengawas dan 155 Dewan Hakim yang akan bertugas penuh dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 yang diselenggarakan di Semarang, Jawa Tengah, pada Sabtu (12/9/2026).

Prosesi pelantikan ini berlangsung khidmat, ditandai dengan pembacaan sumpah (baiat) serta pemasangan toga kehormatan kepada para Dewan Hakim. Para hakim yang dilantik ini memikul tanggung jawab besar untuk menjaga objektivitas dan kualitas penilaian selama perhelatan akbar MTQ Nasional berlangsung.

Rekor Konsistensi Setengah Abad yang Diakui Dunia

Dalam arahannya, Menag Nasaruddin Umar mengungkapkan sebuah fakta yang patut dibanggakan oleh seluruh masyarakat, khususnya generasi muda Muslim di Tanah Air. Indonesia memiliki rekam jejak dan pengalaman panjang yang sangat luar biasa dalam penyelenggaraan MTQ. Sejak pertama kali digagas dan digelar pada tahun 1968, kompetisi bernapaskan keagamaan ini terus hidup dan berkembang secara berjenjang, tidak pernah putus lintas generasi.

“Tidak ada negara yang konsisten mulai 1968 hingga tahun ini bisa melaksanakan MTQ mulai dari tingkat RT, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan nasional,” ungkap Nasaruddin Umar penuh kebanggaan.

Konsistensi selama lebih dari setengah abad ini membuktikan bahwa MTQ bukan sekadar ajang seremonial tahunan atau tren sesaat, melainkan sudah menjadi urat nadi dan kekuatan kultural Indonesia dalam membangun tradisi pembinaan Al-Qur’an di tengah masyarakat akar rumput.

Tren Positif: Dari Polisi, Buruh, Hingga Pegawai BUMN Kini Punya MTQ Sendiri

Satu fenomena menarik yang disoroti tajam oleh Menag dalam pelantikan tersebut adalah eskalasi penyelenggaraan MTQ yang kini semakin meluas. Jika dulu MTQ identik dengan pesantren atau institusi pendidikan Islam, kini gelombang kecintaan terhadap Al-Qur’an telah merambah ke berbagai sektor profesional.

Menag menyebutkan bahwa saat ini terdapat lonjakan signifikan dari berbagai lembaga dan institusi pemerintah maupun swasta yang berinisiatif menyelenggarakan MTQ tingkat nasional mereka sendiri. Ini adalah indikator positif yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an semakin relevan di berbagai bidang profesi.

“Saat ini sedang tren bukan hanya yang dilakukan oleh LPTQ, tetapi hampir 25 event MTQ tingkat nasional yang dilakukan di Indonesia,” papar Menag.

Berbagai institusi besar kini memiliki panggung MTQ-nya masing-masing. Mulai dari ajang MTQ Korpri untuk para Aparatur Sipil Negara (ASN), MTQ Polri bagi jajaran kepolisian, MTQ Buruh, MTQ Perguruan Tinggi untuk kalangan mahasiswa, hingga MTQ BUMN yang diikuti oleh para pegawai perusahaan pelat merah.

Urgensi Standardisasi Penilaian di Bawah Komando LPTQ

Merespons fenomena menjamurnya puluhan event MTQ nasional tersebut, Menag Nasaruddin Umar memberikan catatan strategis. Perkembangan kuantitas yang luar biasa ini harus diimbangi dengan kualitas yang terukur. Tanpa adanya standardisasi, sistem penilaian antar-institusi bisa menjadi bias dan kehilangan kredibilitasnya.

Oleh karena itu, ke depannya Kementerian Agama mendorong agar seluruh kegiatan perhakiman MTQ tingkat nasional di berbagai institusi disinergikan. “Kita berharap ke depan semua kegiatan per-MTQ-an tingkat nasional di bawah koordinasi Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) mengenai perhakiman,” tegas Nasaruddin.

Langkah koordinasi ini sangat mendesak untuk memastikan bahwa setiap peserta, baik itu mahasiswa, polisi, maupun pegawai BUMN, dinilai dengan instrumen dan standar ilmu tajwid, fashahah, serta adab yang sama dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis maupun agama.

Filosofi Menag: Membumikan Al-Qur’an untuk Melangitkan Manusia

Lebih dari sekadar kompetisi membaca atau adu kuat hafalan, Menag mengingatkan kembali esensi sejati dari perhelatan MTQ. Meningkatnya antusiasme masyarakat ini harus dimaknai sebagai momentum transformasi akhlak. Generasi muda diharapkan tidak hanya berhenti pada tahap mahir melafalkan ayat, tetapi juga harus mengimplementasikan nilai-nilai universal Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari yang serba digital ini—seperti menyebarkan kedamaian, menjauhi hoaks, dan menjaga etika sosial.

“Timbul fenomena kecintaan umat terhadap Al-Qur’an, ini menjadi bagian dari proses membumikan Al-Qur’an. Tidak ada artinya kita membumikan Al-Qur’an jika tidak melangitkan manusia,” tutur Menag memberikan pesan filosofis yang mendalam.

Pelantikan di Semarang ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam sekaligus Ketua Umum LPTQ Nasional Abu Rokhmad, Sekretaris Ditjen Bimas Islam Lubenah, serta Direktur Penerangan Agama Islam Muchlis M. Hanafi.

Penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang ini diharapkan tidak hanya menjadi arena unjuk gigi para kafilah terbaik dari seluruh penjuru Nusantara, tetapi juga menjadi fondasi kuat untuk terus menghadirkan nilai-nilai luhur Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. (TI)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *